Hal yang Seharusnya Diajarkan Di Sekolah-Sekolah Indonesia

By January 2, 2018 berita No Comments

Pendidikan yang kurang baik kerap dianggap jadi sumber berbagai permasalahan di negeri ini. Lihat saja pendapat pakar setiap ada permasalahan yang menyerang Indonesia. Jika dirunut, ujung-ujungnya balik ke pendidikan lagi. Tapi kalau memang ada yang salah dengan pendidikan kita, sebenarnya apa yang sih harus diubah?

Kesempatan ini saya juga akan menuturkan banyak hal simpel yang luput di ajarkan dalam system pendidikan kita. Ini bukanlah masalah pelajaran sains rumit yang dapat memenangi Indonesia di Olimpiade internasional. Tapi mengenai bagaimana pendidikan sepatutnya membuat anak-anak Indonesia jadi sebaik-baiknya manusia.

1. Norma Berkendara Dengan Sopan

Saksikan deh keadaan jalan raya kita satu tahun lebih paling akhir. Bukan sekedar makin macet, tapi juga semakin carut-marut. Di jalan raya kebanyakan orang menginginkan jadi pemenang. Motor mendahului dari samping kiri. Mobil membunyikan klaksonnya pada malam hari. Seorang juga akan tanpa ada dosa ambil jalur kiri jalan, lalu segera belok ke kanan. Mengakibatkan pengendara beda terkaget-kaget beradaptasi.

Langkah berkendara yaitu cermin dari tingkah laku kita jadi manusia. Janganlah kaget bila di Indonesia beberapa orang yang tega ambil harta rakyat yang bukanlah haknya. Itu telah tercermin dari perilakunya di jalan raya. Kalau saja norma berkendara di ajarkan dari kecil. Menyadarkan kalau ada hak orang yang lain yang terkebiri bila kita melakukan tindakan ngawur di jalanan.

2. Mata Pelajaran “Bertanya”

Orang Indonesia itu cerdas. Bila anda miliki peluang meniti pendidikan diluar negeri, anda juga akan mengaku hal semacam ini. Pemahaman kognitif kita tidak kalah kok sama orang asing. Sayangnya, kita masih tetap malu-malu ajukan pertanyaan serta mengungkap pendapat. Walau sebenarnya ajukan pertanyaan itu perlu lho. Bukan hanya sebatas mencari jawaban atas hal yang belum juga kamu paham.kamu mengerti. Sistem ajukan pertanyaan juga buka alur fikirmu.

Untuk tingkatkan hasrat untuk ajukan pertanyaan, sekolah butuh miliki kelas spesial ajukan pertanyaan. Dalam kelas itu anak-anak bebas bertanya apa pun. Dari mulai hal yang berkaitan pelajaran hingga hal konyol yang tidak ada hubungannya sama sekolah.

Guru juga harus memberi jawaban yang “adil”. Bila tidak tahu ya katakan saja tidak tahu. Dengan kelas spesial ajukan pertanyaan anak-anak semakin lebih berani mengungkap pendapat mereka.

3. Mata Pelajaran “Berpikir Kreatif”

Satu diantara kekurangan system pendidikan kita yaitu sempitnya ruangan untuk kreatifitas. Kita sangat punya kebiasaan dibuat jadi “seragam”. Jadi berlainan dari rekan-rekan serta lingkungan merasa menakutkan. Walau sebenarnya, jadi berlainan itu lumrah banget. Tidak ada yang salah dari ambil sikap yang berseberangan dengan beberapa rekanmu, sepanjang anda miliki alasan.

Sekolah di Indonesia butuh miliki mata pelajaran “Berpikir Kreatif” di semuanya tingkat pendidikan. Di kelas ini anak-anak bebas meningkatkan inspirasi mereka sendiri untuk merampungkan satu persoalan. Di sini anda dapat membuat rumus untuk masalah matematika, anda dapat menulis naskah drama, dapat buat film untuk membantumu mengerti masalah Kimia.

4. Ketrampilan Mengelola Uang serta Berinvestasi

Kita belajar skema debet-kredit, utang-piutang serta beragam type pembukuan yang rumit. Pemahaman basic pengetahuan akuntansi bahkan juga sudah dikuasai di sma. Tapi apakah dengan itu kekuatan anak-anak Indonesia mengelola uang jadi makin baik? Sayangnya, tidak juga tuch. Walaupun telah miliki basic tehnis mengatur uang, aplikasinya keseharian masih tetap jauh dari keinginan.

Baca juga: pengertian akuntansi

Terkecuali diajari langkah buat pembukuan yang balance, juga akan oke banget bila sekolah juga mengajarkan bagaimana mengelola uang yang baik serta bagaimana anak muda dapat mulai berinvestasi. Semestinya sejak dari kecil kita diajari untuk lihat uang jadi modal untuk hasilkan pendapatan yang berlipat-lipat. Tidak cuma jadi komoditas yang dapat dibelanjakan.

5. Pelajaran “Mendengarkan”