Keberhasilan SMARTIES dalam Meraih Indonesia Awards 2017

By November 17, 2017 berita No Comments

Mobile Marketing Association (MMA) menginformasikan pemenang SMARTIES ™ Indonesia Awards 2017. Ada 36 penerima penghargaan dalam kelompok kiat mobile marketing serta kelompok yang fokus pada industri, serta untuk menghormati inovasi, kreatifitas, serta keberhasilan di semua ekosistem mobile marketing.

Unilever dinobatkan jadi ‘Marketer of the Year’ serta Mindshare Indonesia dinobatkan jadi ‘Agency of the Year in Mobile’ untuk kampanye mobile marketing mereka, seperti ‘Axelerate Find Your Magic’ serta Royco UMB Rural.

Keberhasilan SMARTIES dalam Meraih Indonesia Awards 2017

Th. ini, Unilever kembali memimpin jadi perusahaan yang paling banyak memenangi SMARTIES™ Indonesia Award 2017 dengan terima 15 kelompok penghargaan, dari mulai Cross Mobile Integration, Messaging, serta Location Based Services or Targeting.

SMARTIES ™ Indonesia Award 2017 juga tunjukkan arah yang positif untuk pemain telco, Telkomsel yang terima dua gold award dalam kelompok Brand Awareness & Innovation. ” Kami begitu ketertarikan lihat demikian banyak kampanye yang inovatif di SMARTIES ™ Indonesia Awards 2017 yang memakai tehnologi mobile untuk memberi arah usaha yang riil di Indonesia kata Rohit Dadwal, Managing Director MMA Asia-Pacific dalam info tertulis, Jumat (13/10).

The SMARTIES ™ Indonesia Awards 2017 menghadirkan 68 kampanye dipilih di 17 kelompok dari mulai elektronik, fast-moving consumer goods, service keuangan sampai e-commerce. SMARTIES Index juga akan mengidentifikasi, berikan posisi serta berikan penghargaan pada agensi, pemasar serta brand industri pemasaran yang memberi dampak usaha teratas dengan mengkaji data finalis serta pemenang dari semuanya program SMARTIES di semua dunia.

Dan Pengamat menilainya memanglah memerlukan kebijakan pajak untuk mendorong keadilan untuk transaksi perdagangan lewat on-line atau dimaksud e-commerce serta konvensional yang semakin nyaman dengan adanya cek resi jne untuk memastikan barang pesanannya. Ini menyikapi langkah pemerintah yang tengah formulasikan skema pungutan pajak spesial untuk transaksi perdagangan on-line.

Pengamat perpajakan Yustinus Prastowo menjelaskan, sekarang ini Indonesia tengah menjangkau titik untuk membuat keadilan untuk bidang e-commerce serta konvensional. Walau sekian, Prastowo menilainya butuh bebrapa bagian yang pasti supaya membuat keadilan serta kebijakan yang efisien menarik pajak. Oleh karenanya, aplikasinya juga butuh dibedakan kebijakan serta administrasi perpajakan.

” Prinsipnya memanglah dikenai pajak. Dalam hal semacam ini pajak bertambahnya nilai (PPN) atas penjualan barang, serta pajak pendapatan (PPh) bila ada income serta subyeknya tercover Undang-Undang Indonesia, ” tutur Yustinus lewat pesan singkat yang di terima Liputan6. com, Kamis (24/8/2017).

Yustinus mencontohkan satu diantara langkah efisien untuk mengaplikasikan pajak seperti di Uni Eropa. Aplikasi pajak untuk pemain asing.

” Mengaplikasikan origin principle untuk PPN, dipungut di negara yang jual, lantas berbagi dengan negara maksud. Disini tunjukkan memajaki e-commerce mesti bekerja bersama. Regionalisme jadi perlu, ” kata dia.

Diluar itu, Yustinus mengingatkan kebijakan pajak harus juga pas supaya investasi tidak keluar dari Indonesia. Terlebih usaha digital economy termasuk juga padat modal. Diluar itu, ada juga masih tetap meniti usaha. Menurut Yustinus, hal itu juga memerlukan insentif supaya perubahan ekonomi digital di Indonesia bisa tumbuh serta dapat berkompetisi dengan negara beda. Tetapi, hal perlu aktor usahanya bisa tercatat.

” Yang perlu dorong semuanya teregister. Paling aman semestinya PPN, ” kata dia.

Yustinus menjelaskan, aplikasi kebijakan itu juga butuh koordinasi serta kolaborasi kementerian dari mulai Kementerian Komunikasi serta Informatika, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Kementerian Keuangan.

” Ada paradoks ” coopetition “, tetaplah bersaing supaya tidak ketinggal tapi mesti bekerja bersama supaya memperoleh hasil maksimal. Salah buat kebijakan karna ciri e-commerce serta digital ekonomy ini padat modal serta mobile, jadi punya potensi flight. Bila sangat agresif terlebih untuk start up dapat mendistorsi. Baiknya strateginya with holding dengan tarif rendah agar kompetitif dengan negara beda, ” terang dia.

Praktisi Ivan Hudayana menilainya, cost operasional bidang e-commerce termasuk juga besar terlebih di sumber daya manusia (SDM), pemasaran serta logistik. Diprediksikan, cost logistik lebih dari 15 % dari keseluruhan cost penjualan. Sedang berbelanja modalnya kecil. Oleh karenanya, menurut Ivan, pemerintah butuh meningkatkan dahulu bidang e-commerce supaya tumbuh besar. Menurut Ivan, beberapa besar aktor usaha e-commerce juga telah membayar PPh 21.

” Walau demikian mengapa pajak yang dipakai? Belajar dari negara beda, di incubate serta ditumbuhkan dahulu oleh pemerintah baru peran balik, ” kata dia.

Disamping itu, CEO Blibli Kusumo Martanto menjelaskan, pihaknya jadi pelaku bisnis pasti membayar pajak satu keharusan. Mengenai pemerintah tengah membahas formulasi skema pungutan pajak untuk e-commerce, menurut Kusumo tidak jadi keberatan karena pihaknya mulai sejak awal senantiasa bayarkan pajak.

” Tetapi bila memanglah juga akan ada penetapan pajak beda, kami pasti juga akan mencari beritanya selanjutnya. Blibli. com sudah penuhi ketetapan membayar pajak (PPN) untuk semua penjualan yang berlangsung Blibli. com. Harga barang yang kami jual telah termasuk juga PPN. Jadi kami membayarkan pajak sesuai sama itu. Lalu tentang pembayaran PPh untuk tubuh usaha juga telah kami kerjakan mulai sejak awal berdirinya Blibli. com, ” tegas Kusumo